Istilah “perceraian di pegunungan” sedang menjadi tren di dunia maya, memicu diskusi tentang pengalaman yang meresahkan namun sangat umum terjadi: sengaja ditinggalkan saat mendaki atau berpetualang di alam terbuka. Ungkapan ini mendapatkan perhatian setelah video TikTok menjadi viral, menunjukkan seorang wanita mengaku dia ditinggalkan oleh seorang teman kencan di tengah pendakian di Nevada. Meskipun detail pasti mengenai kasus ini masih belum terverifikasi, perbincangan dengan cepat meluas ketika perempuan lain berbagi cerita serupa.
Ini bukan hanya tentang kencan yang buruk. Fenomena ini menyoroti pola yang lebih dalam dari perilaku sembrono, kontrol, dan bahkan pengabaian yang berbahaya terhadap keselamatan di lingkungan luar ruangan. Istilah ini sendiri berasal dari sebuah cerita pendek tahun 1893 yang menggambarkan upaya yang diperhitungkan untuk membunuh seorang istri di Pegunungan Alpen Swiss—sebuah referensi kelam yang selaras dengan insiden kehidupan nyata di mana pengabaian telah menyebabkan konsekuensi yang parah.
Realitas Pengabaian yang Mengganggu
Tren ini bukanlah hal baru. Kasus pengabaian yang disengaja di lingkungan berbahaya pernah terjadi sebelumnya. Contoh terbaru: seorang pendaki asal Austria dihukum karena kelalaiannya dalam melakukan pembunuhan setelah meninggalkan pacarnya yang kurang berpengalaman hingga mati kedinginan di gunung. Kasus Gabby Petito, dimana seorang perempuan dibunuh oleh pacarnya saat berkemah, lebih lanjut menggambarkan potensi kematian.
Wanita yang pernah mengalami perilaku ini menggambarkannya sebagai tindakan kekuasaan dan kendali yang disengaja. Seorang wanita menceritakan pengalamannya ditinggalkan oleh mantan pacarnya dalam perjalanan ski, dibiarkan menggali lubang “darurat” miliknya sendiri di salju sementara mantan pacarnya terus bermain ski. Yang lainnya ditinggalkan selama sepuluh hari di Pacific Crest Trail, sebuah situasi di mana kelangsungan hidup bergantung pada rasa saling percaya dan kerja sama.
Mengapa Ini Terjadi?
Para ahli menyarankan beberapa faktor berkontribusi terhadap perilaku ini. Beberapa pendaki, didorong oleh ego atau kebutuhan untuk mendominasi, memprioritaskan tujuan pribadi dibandingkan keselamatan orang lain. Isolasi di lingkungan terpencil dapat membuat individu yang melakukan kekerasan semakin berani, dan menawarkan mereka cara untuk melakukan kontrol tanpa konsekuensi langsung. Seperti yang diungkapkan oleh seorang pendaki, “Ada kekuatan yang sangat besar jika kita bisa meninggalkan seseorang di lingkungan yang berbahaya.”
Cara Tetap Aman
Mengingat risikonya, para ahli merekomendasikan untuk memperlakukan setiap pendakian seolah-olah Anda bepergian sendirian. Artinya:
- Paket untuk swasembada: Bawalah makanan, air, peta, dan perlengkapan P3K Anda sendiri.
- Bersiap menghadapi keadaan darurat: Bawalah senter, pakaian ekstra, dan ketahui cara bernavigasi.
- Percayalah pada insting Anda: Jika rekan pendakian menunjukkan rasa tidak hormat atau mengabaikan keselamatan Anda, pergilah.
- Bangun kepercayaan diri: Berlatih pendakian solo untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa Anda mampu menangani situasi apa pun.
Maraknya tren “perceraian di pegunungan Alpen” merupakan pengingat bahwa petualangan di luar ruangan bisa berbahaya bukan hanya karena lingkungannya, namun juga karena orang yang Anda pilih untuk menjelajah. Memprioritaskan kemandirian dan mengenali tanda-tanda bahaya sangat penting untuk tetap aman.



























