Sebuah pertanyaan sederhana – “Kembar di sana?” – bisa mendarat seperti pukulan jika menyentuh luka yang tersembunyi. Seorang wanita hamil, berumur sembilan bulan, disambut dengan ucapan santai ini oleh seorang sopir bus. Bukan niatnya yang menyakitkan, tapi gema dari kehilangan di masa lalu: empat tahun sebelumnya, dia mengandung anak kembar identik, salah satunya meninggal dalam kandungan, memaksanya untuk mengandung keduanya hingga cukup bulan. Lelucon yang tampaknya tidak berbahaya itu membuka kembali kesedihan yang, meskipun berhasil, tidak pernah benar-benar hilang.
Kejadian ini menyoroti kebenaran yang lebih luas: kehamilan sering kali dianggap sebagai pengalaman yang menyenangkan secara universal, mengabaikan kenyataan menyakitkan berupa kehilangan, keguguran, dan komplikasi medis. Kisah wanita itu tidaklah unik. Diperkirakan 10-20% kehamilan berakhir dengan keguguran, namun narasi masyarakat jarang mengakui prevalensi ini. Asumsi biasa tentang “akhir yang bahagia” dapat terasa mengasingkan diri bagi mereka yang mengalami ketidaksuburan, kehilangan, atau kesulitan hamil.
Penulis menceritakan perjalanannya sendiri melalui keguguran berulang kali dan kehamilan kembar yang berisiko tinggi di mana salah satu bayinya sakit parah. Keputusan medis yang diperlukan – termasuk pencabutan alat bantu hidup dari saudara kembar yang sekarat untuk menyelamatkan saudara kembarnya – jarang didiskusikan secara terbuka. Dampak emosional yang ditimbulkan dari menggendong anak yang sekarat di samping bayi yang sehat sangatlah besar, namun masyarakat mengharapkan wanita hamil untuk mewujudkan kebahagiaan tanpa beban.
Keterputusan antara harapan dan kenyataan meluas ke interaksi sehari-hari. Orang asing dengan bebas mengomentari perut hamil, seringkali tanpa mempertimbangkan kerumitan yang mendasarinya. Pertanyaan seperti “Apakah laki-laki atau perempuan?” merasa tidak enak ketika seorang wanita sudah mengalami kehilangan, atau ketika kehamilannya rapuh secara medis. Tekanan untuk menyajikan narasi yang “sehat” memaksa banyak orang untuk menyembunyikan perjuangan mereka, sehingga menambah beban yang mereka tanggung.
Ini bukan tentang mengawasi percakapan santai; ini tentang menyadari bahwa kehamilan tidak selalu merupakan pengalaman bahagia seperti yang digambarkan. Kehilangan dan kesedihan terjalin dalam struktur kesehatan reproduksi, dan mengakui kenyataan ini dapat menumbuhkan lebih banyak empati dan mengurangi dampak buruk yang tidak disengaja. Pengalaman penulis menggarisbawahi perlunya pembahasan yang lebih bernuansa tentang kehamilan, yang menghormati harapan dan patah hati.
Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat yang menyedihkan bahwa di balik setiap perut hamil terdapat perjalanan yang kompleks dan sangat pribadi. Sebuah pertanyaan sederhana dapat membuka kembali luka, dan terkadang, diam adalah jawaban yang paling baik.
